Desa wisata adalah sebuah wilayah yang memiliki beberapa karakteristik khusus untuk menjadi daerah tujuan wisata. Ada berbagai macam desa wisata, yakni bisa berupa desa wisata berbasis keindahan alam, kuliner maupun budaya. Memang, dalam membangun dan mengembangkan desa wisata bukan perkara mudah. Sektor pariwisata yang berkembang dapat menjadi lahan penghasilan bagi masyarakatnya. Namun dalam membangun desa wisata, ada 10 langkah praktis membangun desa wisata

Berikut adalah langkah-langkah untuk mengembangkan dan membangun potensi desa menjadi desa wisata, yaitu :

  1. Identifikasi potensi desa melalui rembug bersama seluruh komponen desa dari semua kalangan. Sehingga potensi yang ada di desa tersebut dapat  menjadi komoditas yang bisa di kembangkan dari segala aspek. Bisa keindahan alam, hasil bumi, kekayaan flora fauna/hayati, sosio kultural, masyarakat, tradisi atau hal-hal yang bersifat khas/unik yang tak dimiliki daerah lain. Pastikan potensi unggulan yang akan dijadikan komoditas utama.
  2. Identifikasi permasalahan yang bisa jadi penghambat bagi pengembangan potensi wisata desa, mulai dari yang bersifat fisik, non fisik atau sosial, internal dan eksternal. Namun jika masalah tersebut dapat teratasi dan bahkan bisa dikembangkan, hal ini justru menjadi potensi untuk perkembangan desa wisata tersebut.
  3. Adanya komitmen yang kuat dari seluruh perangkat dan masyarakat desa untuk menyamakan pendapat, persepsi untuk membangun potensi desa untuk dijadikan desa wisata. Komitmen yang kuat dari seluruh masyarakatnya akan menjadi dukungan bagi terwujudnya desa wisata.
  4. Identifikasi dampak yang akan terjadi, baik dampak positif maupun dampak negatif. Dari sebuah kegiatan pembangunan desa wisata sesuai kekhasan desa maka setiap desa memiliki karakteristik sendiri-sendiri, sehingga menghasilkan dampak pada perubahan kultur sosialnya.
  5. Komitmen yang kuat dari seluruh komponen desa untuk menggandeng Pemerintah Daerah dan pihak swasta bila diperlukan untuk membantu dalam pendanaan dan penganggaran guna pembangunan desa wisata dengan menggunakan seluruh sumber daya ekonomi yang ada. Namun hal ini harus memperhitungkan dampak yang akan terjadi jika menggandeng pihak luar.
  6. Menyiapkan segala seperangkat aturan atau regulasi norma yang lebih bertujuan untuk mengawal pengembangan pembangunan desa wisata dan mengawasi potensi-potensi penyimpangan yang mungkin dapat terjadi. Regulasi disiapkan agar aktivitas pembangunan desa wisata beserta dampaknya tetap berada dalam regulasi sehingga dapat berjalan sesuai dengan hukum yang berlaku.
  7. Mengikuti pelatihan-pelatihan untuk menambah keahlian dalam mengelola tempat wisata dan memanajemen seluruh pariwisata yang ada di desa. Sehingga masyarakat desa mampu memanajemen tamu/pengunjung, dan menciptakan inovasi-inovasi yang dapat dikembangkan sehingga para pengunjung di desa wisata tersebut tidak jenuh dengan pariwisata yang ada.
  8. Menggunakan segala media informasi online maupun offline untuk memperkenalkan dan mempublikasi potensi wisata di desa. Media internet adalah media yang saat ini banyak digunakan karena di rasa sangat efektif yang bisa menjangkau seluruh belahan bumi. Tempat wisata yang lokasinya terpencil dapat diketahui oleh orang di belahan dunia lain berkat teknologi informasi yaitu internet.
  9. Belajar pada kesuksesan desa wisata lain atau studi banding. Sehingga dapat belajar pada keberhasilan desa wisata lain yang berkembang dibidang wisata yang sama. Sehingga permasalahan yang sama dapat diatasi dengan mencontoh kesuksesan desa wisata lain. Dengan adanya inovasi dalam pembangunan desa wisata yang dikelola. Maka desa wisata yang dibangun akan mampu bersaing di dalam negeri sendiri atau pun di luar negeri. Sehingga dapat menarik wisatawan dari mancanegara, yang dapat menyumbang devisa bagi negara.

Seperti halnya membangun sebuah bisnis, di perlukan branding yang mampu menciptakan image bagi wisatawan yang akan berkunjung branding itu meliputi USPs (Unique Selling Proposition) atau di sebut juga Unique Selling Point. USPs merupakan ciri khas  yang akan kita jual kepada wisatawan yang merupakan alasan mengapa pengunjung akan datang ke desa wisata kita

 postioning serta brand yang mudah diinggat, secara estetika memberi kesan,berkaitan dengan produk dan memiliki arti, mampu flexible untuk di tampilkan di semua media, Protectability; menjaga merk agar tidak  diimitasi atau diduplikasi, oleh karena itu harus didaftarkan secara legal.

Untuk itu di perlukan pelatihan manajemen desa wisata yang meliputi :

  • Pengemasan produk, atraksi yang akan di tampilkan, fasilatas penunjang (warung,toilet, pusat informasi) , serta prasana pendukung seperti jalan , moda dst
  • Paket wisata serta program acara
  • Penetapan tarif, dalam hal ini biaya yg akan di tetapkan berdasarkan biaya pokok penyelengaraan program wisata desa

Manajemen pemasaran yang meliputi

  • Digital marketing membuat website atau blog
  • Membuat buku panduan untuk pengunjung
  • Pameran dagang ,menyelengarakan event serta promosi penjualan