Kerajinan kulit Indonesia di era kekinian semakin beragam, hal ini dipengaruhi oleh adanya inovasi yang dikembangkan melalui pelatihan. Kerajinan dari bahan kulit saat ini banyak sekali ragamnya. Pelatihan tersebut menjadikan para perajin kulit untuk terus menciptakan berbagai macam kerajinan yang dapat dijual dengan harga tinggi. Sehingga perajin kulit dapat tetap eksis menjalankan bisnisnya, meskipun zaman terus berkembang. Adapun materi yang diberikan dalam pelatihan mengembangkan kerajinan kulit, antara lain :

  1. Proses pembuatan pola pada bahan kulit
  2. Pembelajaran dari pemotongan pola pada kulit
  3. Penjelasan tentang jenis bahan kulit
  4. Teknik menjahit bahan kulit
  5. Cara menggunakan fasilitas yang diberikan pada proses pelatihan

Fasilitas yang di dapatkan oleh para perajin kulit yang ikut berpartisipasi adalah

  1. Bahan kulit yang akan digunakan untuk membuat kerajinan
  2. Alat yang digunakan dalam proses pembuatan kerajinan
  3. Sertifikat
  4. Coffee break dan makan

Materi pelatihan disampaikan dengan cara presentasi. Hal ini guna memudahkan peserta dalam memahami materi yang disampaikan. Peserta yang mengikuti pelatihan antara lain, pengusaha kulit, perajin kulit, mahasiswa dan karyawan yang ingin memiliki tambahan penghasilan.

Kerajinan yang dihasilkan dari bahan kulit yaitu, tas, sepatu, ikat pinggang, dompet, gantungan kunci, topi, dan masih banyak lainnya. Hingga saat ini kerajinan dari bahan kulit masih banyak peminatnya. Dari penduduk lokal, hingga manca negara.

Di Indonesia terdapat beberapa daerah yang mengembangkan usaha dibidang kerajinan kulit. Daerah yang pertama adalah Desa Wisata yang dikenal dengan kerajinan kulitnya tersebut yaitu Desa Manding yang letaknya berada di persimpangan Jl. Parangtritis km 11, atau tepatnya di  Jl. DR Wahidin Sudiro Husodo, Manding, Sabdodadi, Bantul, sekitar 15 km dari pusat kota Jogja. Manding masih menjadi sentra desa wisata kerajinan kulit, dikawasan tersebut masih memiliki sekitar 40 usaha kulit tradisional yang dikerjakan oleh ratusan warga sekitar. Produk kerajinan kulit di Manding diberdayakan oleh warganya sendiri sebagai mata pencahariannya.

Daerah yang kedua adalah Daerah Sukaregang, Garut. Daerah ini menjadi daerah penghasil kerajinan kulit populer di Garut. Kawasan ini bisa dibilang adalah daerah penghasil produk kulit yang paling terkenal di Indonesia. Banyak produk jaket, sepatu, hingga tas kulit yang dihasilkan dari Garut. Dengan kualitas jempolan dan harga bersaing, produk kulit dari Sukaregang menjadi favorit masyarakat. Mayoritas pengrajin kulit di daerah ini menggunakan kulit asli, seperti kulit domba, sapi, dan kerbau, yang pemakaiannya disesuaikan untuk produk yang akan dibuat.

Daerah yang ketiga adalah daerah Magetan. Kini, terdapat sekitar 115 unit Usaha Kecil Menengah (UKM) yang menghasilkan produk kulit di Jalan Sawo, Magetan. Industri kulit di Magetan mayoritas berlokasi di Lingkungan Industri Kulit (LIK) di Magetan Kota dan Ngariboyo. Industri kulit di Magetan merupakan salah satu yang tertua di Indonesia. Kerajinan kulit di daerah ini berlangsung sejak 1830, tepatnya saat Perang Diponegoro berakhir.

Daerah penghasil kerajinan kulit, lainnya ada di Daerah Tanggulangin, Sidoarjo. Sekitar 100 pengrajin lokal di Tanggulangin mampu membuat ratusan hinga ribuan produk kulit dalam jangka waktu satu bulan. Produk kulit Tanggulangin nggak hanya diminati oleh masyarakat lokal, tapi juga oleh konsumen di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Di Tanggulangin pembuatan kerajinan kulit masih menggunakan teknik-teknik tradisional. Sehingga produk yang ditawarkan di Tanggulangin memiliki kualitas dan keawetan yang baik.