Selama Dua Hari 16 dan 17 Maret kami berkesempatan mendampingi share learning PUNDI di beberapa lokasi yaitu KWML Wana Manunggal, Tani Manunggal serta UMHR Wono Lestari Bantul. Di KWML(Koperasi Wana Manunggal Lestari) disambut oleh Pak Sugeng selaku ketua Koperasi. Di lokasi yang berada di sekitar hutan yaitu Jalan Raya Playen-Getas, Dengok, Playen, Gunungkidul kita dapat mengamati hutan secara langsung bahkan tanpa turun dari mobil. Wirausaha hutan memang tidak akan pernah terlepas dari suatu kelompok masyarakat. KWML Wana Manunggal mengambil badan hukum koperasi. Selain mengelola hutan dan hasil hutan, Wana manunggal juga memiliki layanan simpan-pinjam anggota. Wana manunggal mengelola sembilan dusun dan dua desa serta beranggotakan kurang lebih 683 orang. Dibentuk mulai tahun 2006 tentunya KWML ini telah memiliki dua sertifikasi yaitu sertifikat PHBML LEI pada bulan September tahun 2006 serta mendapatkan sertifikat SVLK tahun 2011. SVLK merupakan kependekan dari Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu. Bagaimana memahami SVLK? dan bagaimana SVLK bisa didapatkan? Maka anda perlu membaca website http://silk.dephut.go.id/index.php/info/vsvlk/3. Harapan dari sertifikasi kayu tersebut adalah bertambahnya nilai jual kayu dibandingkan dengan kayu yang tidak memiliki sertifikat. Lebih kerennya lagi Wana Manunggal telah memiliki website yang dapat diakses melalui komputer maupun smartphone kita, alamat websitenya adalah http://wanamanunggallestari.com. Hutan yang dikelola merupakan jenis Hutan Rakyat.

Menurut Undang-Undang Nomor 5 tahun 1967 tentang Ketentuan ketentuan Pokok Kehutanan pada Bab I Pasal 1 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan hutan rakyat adalah lapangan yang bertumbuhan, pohon-pohonan yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan ditetapkan oleh pemerintah sebagai hutan rakyat.

Koperasi Wana Manunggal Lestari

Kunjungan ke Koperasi Wana Manunggal Lestari

Lokasi Kedua kunjungan ke Koperasi Tani HKM Tani Manunggal dekat dengan lokasi pertama yaitu di daerah Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Luas Hutan yang digarap kurang lebih 84,65 Ha berjenis HKM yaitu Hutan Kemasyarakatan. Koperasi beranggotakan kurang lebih 126 kelompok. Dimana setiap kelompok memiliki anggota juga. Biasanya kelompok ini terdiri dari satu keluarga. HKM Tani Manunggal juga telah mengembangkan eko wisata di Air Terjun Sri Getuk. Ternyata potensi hutan sebagai tempat wisata juga merupakan hal yang menarik dan mengesankan.

Kunjungan hari kedua bertempat di UMHR Wono Lestari Bantul. UMHR Wono Lestari Bantultelah mendapatkan sertifikat SVLK sehingga standarnya jelas dan harga jual bisa tinggi. Proses untuk mendapatkan SVLK  telah dibantu oleh MFP sehingga pengurusan sertifikat ini relatif lebih ringan. Diharapkan dengan adanya SVLK, hasil hutan terutama kayu bisa diekspor ke negara eropa. UMHR Wono Lestari merupakan wadah bagi para petani hutan rakyat, dimana UMHR menampung hasil hutan masyarakat kemudian menjual ke buyer. Selain bertindak sebagai trader, UMHR juga mengelola hutan dan hasil hutan sendiri. Beberapa kali UMHR ini mengikuti pameran baik skala Nasional maupun International. Tidak jauh beda dengan HKM Tani Manunggal, UMHR juga mengembangkan eko wisata didekat perbatasan antara sungai Progo dan Sungai Bedog. Suasana cukup bagus untuk dinikmati sambil menyantap hidangan yang nikmat dan lezat.

IMG_20160316_104321

Hari terakhir Share Learning diadakan di dalam ruangan yaitu Hotel Grage Ramayana. Setiap LPHD telah memiliki business plan untuk mengembangkan kewirausahaan bidah hutan. Turut Hadir perwakilan dari Master Forestry Programe 3 (MFP3) sebagai narasumber yaitu Widya Wicaksana. Pematangan konsep bisnis plan berbasis LPHD harus matang dan terkonsep secara bagus seperti yang diungkapkan Widya Wicaksana. Di Yogyakarta perbandingan pengelola hutan dengan hutan yang tersedia sangat terbatas, namun di Jambi satu orang dapat mengelola berhektar-hektar hutan. Potensi hutan di Jambi sangat luar biasa ,pengelolaan dan pengembangan yang bagus, akan menciptakan hasil hutan yang luar biasa untuk mensejahterakan masyarakat disekitar.

Sesi selanjutnya diisi oleh narasumber yang berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup. Teguh mengemukanan bahwa LPHD bisa mengakses permodalan untuk mengembangkan usaha berbasis hutan pada BLU. Saat ini daya serap masyarakat dalam mengakses modal masih sangat sedikit, maka pada kesempatan tersebut Teguh sangat berharap pinjaman dari BLU bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan hutan yang dikelola oleh petani. Dengan Bantuan PUNDI diharapkan kewirausahaan di sektor hutan wilayah Jambi semakin berkembang pesat. BLU berharap persyaratan dapat dipenuhi terlebih dahulu sebelum mereka mengakses permodalan.