Bakpia adalah salah satu makanan khas dari kota Yogyakarta. Hampir diseluruh tempat pusat oleh-oleh di Jogja menyediakan bakpia. Selain itu bakpia termasuk makanan yang tahan lama. Bakpia dikemas dengan tempat yang aman, sehingga banyak para wisatawan yang menjadikan bakpia sebagai buah tangan. Bakpia adalah kue yang kulit luarnya terbuat dari tepung terigu dan diisi dengan kacang hijau yang telah di campur dengan bahan-bahan lain seperti gula dan susu. Bakpia sendiri sebenarnya bukan berasal dari Yogyakarta namun berasal dari Cina.

Bakpia pertama kali dibawa oleh pendatang asal Tiongkok, Kwik Sun Kwok, pada 1940-an ke Yogyakarta. Pada saat itu. Kwik menyewa sebidang tanah di Kampung Suryowijayan, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta milik seorang warga lokal bernama Niti Gurnito. Pada tahun 1980an, bakpia pun semakin populer dan mulai muncul produsen-produsen rumahan bakpia di kawasan Pathuk. Namun seiring berjalannya waktu bakpia kini banyak dikembangkan di desa-desa sebagai mata pencaharian warga desa. Warga dapat mengkombinasikan isi dari bakpia dengan hasil pertanian yang mereka tanam. Seperti bakpia dengan isi ubi kuning, ubi ungu, kumbu hitam, durian, dan masih banyak lagi.

Untuk membuat bakpia dengan rasa yang enak dan memiliki nilai jual, warga desa harus mengikuti pelatihan. Pelatihan tersebut diharapkan bisa dijadikan sebagai bekal dalam mengembangkan bisnis kuliner. Selain itu juga berguna untuk membimbing warga desa yang tidak memiliki pekerjaan, menjadi lebih produktif dan memiliki penghasilan. Bakpia adalah makanan yang pembuatannya mudah. Sehingga warga desa dengan mudah mencontoh cara membuat bakpia tersebut.

Pelatihan meliputi seluruh aspek yang digunakan dalam proses pembuatan bakpia, hal ini memiliki tujuan agar bakpia yang dihasilkan menjadi produk yang memenuhi syarat dan mutu yang ditentukan. Pelatihan yang diadakan meliputi cara pembuatan, cara pengemasan yang baik dan higienis. Sehingga produk bakpia yang dihasilkan memiliki nilai gizi dan mutu yang baik. Mutu dalam pembuatan bakpia sendiri dinilai dari bahan yang digunakan untuk membuat bakpia, proses pembuatan dan pengawasan, tempat pembuatan bakpia, alat yang di gunakan dalam proses produksi, serta kebersihan personalia. Alat-alat pengolahan bakpia harus memiliki syarat standar higienis. Sehingga bakpia terjaga mutu dan kualitasnya sehingga sesuai dengan standar.

Selain dengan adanya pelatihan hal ini selalu dibarengi dengan adanya monitoring dan evaluasi untuk mengetahui keberhasilan kegiatan. Sehingga menghasilkan produk yang layak dipasarkan. Oleh karena itu indikator keberhasilan program kegiatan ini adalah perajin bakpia yang mengikuti pelatihan dan berhasil menghasilkan bakpia dengan standar yang ditentukan maka akan mendapatkan sertifikat P-IRT. Sertifikasi P-IRT ini bertujuan untuk memberikan jaminan kualitas produk pada konsumen, pentingnya pengemasan dan inovasi pengembangan produk untuk meningkatkan pemasaran dan para peserta yang mengikuti pelatihan mampu mengaplikasikan proses pembuatan bakpia dengan varian yang bermacam-macam. Menggunakan alat yang sesuai dengan ketentuan. Sehingga menghasilkan bakpia yang memiliki varian pilihan rasa yang unik dan inovatif.

Meskipun banyak varian isi dan rasanya, harga bakpia tetap terjangkau. Mengingat penduduk Indonesia memiliki sifat yang komsumtif. Harga bakpia tetap aman di kantong mereka. Sampai kapanpun usaha bakpia akan terus ada, seiring dengan banyaknya tempat wisata baru yang ada di Yogyakarta. Harga bahan baku untuk pembuatan bakpia sendiri masih sangat terjangkau oleh masyarakat dan mudah di dapatkan di pasaran dengan standar yang berkualitas.