Indonesia adalah negara agraris. Sebagian dari Indonesia adalah lautan. Penduduknya sebagian besar sebagai seorang nelayan. Hasil tangkapan ikan di Indonesia pun melimpah. Jenis ikan tangkapannya pun bermacam-macam. Jenis-jenis ikan inilah yang membedakan harga jualnya. Penghasilan para nelayan menjadi tidak stabil, karena para nelayan selama ini menjual hasil tangkapannya di tempat pelelangan ikan dengan harga yang relatif rendah.

Pendapatan yang dihasilkan tidak sebanding dengan kerja kerasnya. Hasilnya sangat rendah dan kurang jika untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sehingga banyak dari keluarga nelayan yang hidupnya jauh dari kata sejahtera. Hal ini dipicu oleh kurangnya pengetahuan dalam mengelola hasil tangkapannya. Keluarga nelayan menjadi kurang produktif. Mereka cenderung menggantungkan hidupnya dengan penjualan hasil tangkapannya begitu saja tanpa mengolahnya terlebih dahulu.

Ketika dilihat dari segi pendidikan, jenjang pendidikan dari keluarga nelayan relatif rendah, kebanyakan dari mereka hanya lulusan sekolah menengah pertama. Bisa disebut dengan wajib belajar 9 tahun. Jika di dalam masyarakat kampung nelayan terdapat sebuah usaha kecil yang khususnya mengolah hasil ikan laut. Maka untuk kedepannya kehidupan keluarga nelayan mengalami peningkatan kesejahteraan. Adanya pelatihan di kampung nelayan yaitu untuk memberikan pengetahuan para keluarga nelayan dalam pemanfaatan hasil ikan laut.

Latar belakang adanya pelatihan pengolahan hasil ikan laut, yaitu untuk mendorong tumbuhnya usaha kecil di dalam masyarakat kampung nelayan. Sehingga kehidupan mereka yang berprofesi sebagai nelayan menjadi lebih sejahtera, penghasilan meningkat dan lebih produktif. Karena mereka memiliki pengetahuan yang cukup dalam mengolah hasil tangkapannya dan hasil olahanya dapat mereka jual dengan harga yang tinggi.

Adapun pelatihan yang diberikan yaitu mengolah hasil ikan tangkapan nelayan menjadi bahan olahan antara lain yaitu abon ikan, otak-otak, bakso ikan, nuget ikan dan kerupuk. Tujuannya yaitu untuk meningkatkan nilai jual dan membangun industri kecil skala rumahan di tengah masyarakat pesisir.

Olahan dari bahan ikan yang hingga saat ini masih banyak diminati yaitu kerupuk. Selain bahan dasar pembuatannya yang murah, alat yang digunakan pun sederhana. Bahan ikan yang digunakan untuk membuat kerupuk juga sangat beragam, hal inilah yang menarik pembeli. Jika dijual dipasaran seorang pembeli dapat memilih jenis kerupuk yang diinginkan. Jenis-jenis kerupuk yang hingga kini tetap laris dipasaran antara lain, kerupuk udang, kerupuk tengiri dan kerupuk kulit ikan.

Bahan dalam pembuatan kerupuk mudah di dapatkan dipasaran dan harganya terjangkau. Bahan yang digunakan adalah daging ikan atau udang, tepung terigu dan tapioka, dan sejumlah bumbu-bumbu yang nantinya akan dicampurkan dalam adonan. Ketika adonan sudah jadi. Maka adonan tersebut lalu di masukkan kedalam mesin pres. Didalam mesin pres adonan kerupuk di cetak, hasil cetakan kerupuk lalu di masukkan kedalam dandang dan di kukus dengan waktu yang sudah di tentukan. Setelah dikukus, kerupuk di keluarkan dari dalam kukusan dan di tata pada loyang dan dijemur 2-3 hari, hingga kerupuk menjadi kering. Ketika kerupuk sudah kering, langkah terakhir yaitu ditimbang dan dikemas dalam plastik.

Pengemasan kerupuk harus diilakukan dengan baik, sehingga ketika kerupuk dipasarkan, bentuk dari kerupuk masih terjaga dan tidak hancur. Kerupuk yang paling laku dipasaran yaitu kerupuk yang diolah ½ matang. Sehingga para pembeli harus mengolahnya kembali dengan cara menggorengnya. Meskipun kerupuk siap makan juga banyak dipasaran, namun peminatnya masih kurang. Karena kerupuk siap makan memiliki banyak kekurangan, yaitu mudah tengik jika didiamkan dalam waktu yang relatif lama.